Tampilkan postingan dengan label Epistel Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Epistel Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

BAHAN KHOTBAH UNTUK PASKAH II TAHUN 2016

EPISTEL:  YESAYA 25: 6-9

25:6 TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.
25:7 Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa.
25:8 Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya.
25:9 Pada waktu itu orang akan berkata: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!"

EVANGELIUM : LUKAS 24: 36-49

24:36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!"
24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.
24:38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?
24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."
24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.
24:41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?"
24:42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.
24:43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.
24:44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."
24:45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
24:46 Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,
24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.
24:49 Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi."

PERTOBATAN DAN PENGAMPUNAN BAGI SEMUA BANGSA

Pengantar
Perikop ini ditentukan sebagai teks khotbah di kebaktian di huria/gereja lutheran pada hari kedua perayaan paskah tahun 2016 ini. Dengan memahami dan merenungkan isinya diharapkan umat Tuhan dapat menemukan apa yang  dikehendaki TUHAN untuk didengar, diketahui  dan akan dilaksanakan  di tengah umat manusia. Tujuan pemberitaan dan pengamalan pesannya adalah agar dunia percaya bahwa Tuhan Yesus telah bangkit mengalahkan kematian ala Adam, dan percaya bahwa Yesus Kristus bukan hanya mesias melainkan juga Anak Allah Yang Mahatinggi, Yahowa Pencipta langit dan bumi.  Sesuai dengan tujuan pemberitaan dan pengamalan pesan perikop ini, khotbah diharapkan dikemas dalam kerangka pokok pikiran (tema)  “Pertobatan dan Pengampunan Bagi Semua Bangsa”. Sehubungan dengan itu tentu saja banyak pertanyaan, misalnya: Pertobatan yang bagaimana yang dituntut? Dosa apa rupanya yang akan diampuni di kalangan bangsa-bangsa?  Bagaimana menyampaikan  khotbah dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan mencapai tujuan yang diharapkan? Mudah-mudahan penjelasan di bawah ini yang dipaparkan berdasarkan pemahaman teologi lutheran,  dapat membantu para pengkhotbah.

Memahami  perikop dalam konteks tujuan menulis Injil Lukas
Berita dalam kitab Injil dirangkai sedemikain rupa untuk menyaksikan bahwa Yesus dari Nazareth itu adalah Anak Allah Yang Mahatinggi. Dia datang dari Allah.  KedatanganNya hanya diketahui oleh sejumlah orang, tetapi penghuni sorga merayakannya. Hidup dan kedatangannya sebagai manusia  adalah untuk keselamatan dan pengampunan bagi umat pilihan TUHAN (Israel) dan seluruh bangsa-bangsa. Dia kerjakan contoh keselamatan dan pengampunan dosa di bumi sebelum dia kembali kepada Allah. Seluruh bangsa-bangsa harus tahu akan hal itu, dan turut menikmati keselamatan dan pengampunan itu.  Mahkota keselamatan kekal di bumi dan di sorga bagi setiap orang (bagi bangsa) yang percaya dan menyambutnya.  Perikop khotbah ini merupakan bagian utama penyampai pesan tersebut.

Mamahami pesan teks
1.        Ayat 36: Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!"
Mereka (para murid Yesus) bercakap-cakap. Mungkin isi percakapan mereka masih seputar tentang Yesus yang telah bangkit.  Tidak ditemukannya mayat Yesus di kuburanNya, pengalaman dua murid yang ke Emmaus. Dua pengalaman yang masih menimbulkan pertanyaan bagi mereka apakah Yesus benar-benar telah bangkit: Ada yang meragukan, ada yang meyakini, ada yang meminta bukti, ada yang menganggap penglihatan mereka berupa halusinasi. Ada yang mengatakan itu “berita rekayasa para murid Yesus”, dan banyak lagi warna pendapat  tentang Yesus yang mayatnya tidak ditemukan di makamnya. Percakapan yang seperti waktu kebangkitan Yesus masih terus ramai sampai sekarang. Penulis Injil sudah memberikan gambaran sikap, pendapat  dan reaksi kelompok-kelompok manusia  sehubungan dengan kebangkitan Yesus dari sejak peristiwa itu. Dan itu sampai sekarang terus berlanjut.  Percakapan itu bisa sangat tajam dan kalau tidak dikelola dengan baik, percakapan itu bisa mengharu-birukan kelompok-kelompok umat manusia. Itu sudah tampak dalam sejaran gereja dan dalam sejarah keagamaan yang dianut umat manusia, terutama dalam sejaran keagamaan yang berakar pada agama abrahamis.

Berita yang ditulis Lukas ini sebenarnya menjawab percakapan yang ramai tersebut. Menurut Lukas, percakapan (baca “debat”) itu berhenti dan terjawab, sewaktu  Yesus  menjumpai dan menampakkan diriNya kepada mereka, dan mengingatkan mereka tentang firman TUHAN mengenai hal itu. Tentu yang beruntung dari kalangan mereka adalah yang tidak membiarkan dirinya  hanya larut dalam percakapan (perdebatan), tetapi yang dengan kemampuannya yang ada (kemampuan indera, otak/pikiran dan kemampuan iman) melihat Yesus sebagaimana lazimnya DIA bergaul dengan mereka; dan  mengingat dan memegang sebagai kebenaran hal apa yang dikatakan Yesus tentang diriNya. Semua percakapan tentang  Yesus yang bangkit (percakapan teologis, percakapan filosofis, percakapan biologis, percakapan pistis, percakapan mistis, dan jenis percakapan lainnya) harus: 1) rela dijumpai Yesus atau berjumpa dengan Yesus; 2)  mendengar apa sapaan Yesus kepada mereka; 3) membuang segala keraguan karena pertimbangan hati/otaknya; 4) melihat Yesus bahkan mau meraba Yesus; 5) dengar-dengaran pada ajaran Yesus; 6) bertobat; 7) menerima pengampunan dari Yesus; 8) menyaksikan kebangkitan Yesus dan kehidupan yang dari Yesus; 9) menerima apa yang dijanjikan Bapa (yaitu pencurahan Roh Kudus); 10) bersedia diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi. Ada sepuluh hal yang harus terjadi pada diri setiap peserta perdebatan itu. Kesepuluh hal itu berpusat pada Yesus, bukan pada pendapat, latar belakang  dan kebenaran yang dipegang setiap peserta percakapan (perdebatan).

Sapaan Yesus pada mereka mengatakan: “Damai Sejahtera Bagi Kamu!” (dalam bahasa sehari-hari Yesus:שׁלום לכם  (baca : šālôm lakem; dalam teks Yunani Injil Lukas: eirene humin; artinya: damai bagi kalian. Di sini dipilih terjemahan “kalian” untuk lakem atau humin, agar jelas yang disapa itu banyak; dan walaupum dalam kata aslinya digunakan akhiran bentuk plural orang kedua jamak maskulin, itu dipahami berlaku sebagai sapaan kepada orang banyak yang mungkin terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dengan sapaan sedemikian tidak dibedakan laki dan perempuan. Kalau orang banyak itu hanya perempuan maka sapaannya salom laken). Sapaan umum rakyat Yahudi ini di sini  lebih dari arti sapaan umum. Sapaan itu menghentikan percakapan yang penuh perdebatan dan pertanyaan. Dan mereka diajak memperhatikan penyapa, serta membuat semua isi percakapan tidak menjadi alasan perselisihan apalagi perkelahian dan perpecahan, melainkan menjadi bahan-bahan pendalaman tentang Yesus yang datang menyapa. eirene berarti peace, undisturbedness (lihat: A.Souter, A Pocket Lexicon to the Greek New Testament, Oxford, 1972, p.73). šālôm berarti: “selamat, keutuhan, damai, perdamaian, damai sejahtera” (lht: R.Achenbach, Kamus Perjanjian Lama. Bahasa Ibrani – Bahasa Indonesia, @ Pematangsiantar, 1992, h.281). Artinya yang lebih dalam: šālôm digunakan sebagai sapaan salam antara orang yang bersahabat (bd. Ezr. 5:7). Dengan sapaan ini dinyatakan: keadaan tanpa permusuhan antara penyapa dan dikalangan yang disapa; di kalangan bangsa-bangsa (bd. 1 Raj.5:12). Sapaan ini menunjukkan adanya hubungan yang rukun antara bangsa-bangsa (bd. Luk.14:32); adanya kerukunan di kalangan umat kristiani (bd. Rm.14:19); kerukunan umat Kristen dengan umat non-Kristen (bd. Ibr. 12:14). (bd. W.R.F.Browning, Kamus Alkitab. A Dictionary of the Bible. Paduan dasar ke dalam kitab-kitab, tema, tempat, tokoh dan istilah-istilah alkitabiah,  PT BPK GM, Jakarta, 2007, h.72). Sapaan šālôm juga bisa dipahami sebagai imperatif (perintah/suruhan), yang artinya “berdamailah!”. Jadi kalau TUHAN (Yesus) menyapa manusia dengan šālôm, berarti ada damai antara dia yang menyapa dan yang disapanya, dan  diharapkan juga ada damai dikalangan yang disapa TUHAN tersebut.

Martin Luther bicara juga tentang Friede (šālôm, damai) dalam karya-karyanya. (Lihat: Luther Deutsch. Die Werke Luthers in Auswahl. Hg. von Kurt Aland, Vol. I-X,  UTB Vandenhoeck, Goettingen, 1959-1969. 1974). Menurut Luther, damai itu harus lebih sungguh-sungguh diciptakan sekarang (I.67). Namun damai dan aman yang dicapai itu tidak boleh mebuat umat Kristen menjadi lalai akan tugas tetapi harus terus bergumul memberitakan keselamatan. Kristen harus selalu giat sebagaimana para martir telah melakukannya. (bd. Luther. I, 77f,81f.). Sewaktu membahas Ibr.7,1, M.Luther berpendapat: Bila bicara tentang “damai’, itu bukan sembarang ‘damai’ seperti dipahami dibicarakan, dituliskan dan dipikirkan secara umum. Damai yang sesungguhnya tidak dapat disuguhkan ciptaan. Damai yang dimaksud adalah damai “yang melampaui segala akal” (Flp.4:7), yakni segala yang tergambarkan dari yang tersembunyi di balik Salib dan Kematian, yang seperti matahari tersembunyi di balik embun. Damai seperti itu tidak dikenal para pelaku kejahatan (orang bebal). Damai yang melampaui segala akal itu tak mungkin diperoleh tanpa iman kepada dan tanpa keadilan dari TUHAN Allah, sebab seperti dikatakan dalam Mzm 85:11: “keadilan dan damai sejahtera bercium-ciuman”. Di sana semua perbuatan baik dan hidup dicantolkan kepada kebaikan-kebaikan yang jauh lebih tinggi. Dengan iman, hidup orang percaya disatukan dengan TUHAN Allah. Dalam makna ini apa yang dikatakan Paulus dalam memulai suratnya: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah (Rm.1,7; Gal.1,3); dan bila Yesus berkata: Damai sejahtera kutinggalkan bagimu... apa yang kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu” (Yoh.14:27). (bd. I,315). Selanjutnya Luther mengatakan, bahwa damai itu bisa terjadi pada seseorang apabila seseorang itu diampuni dan  menerima (dalam arti mengimani atau percaya akan)  pengampunan itu, seperti terjadi pada perempuan berdosa (Maria Magdalena) yang meminyaki kaki Yesus  dan kepadanya dikatakan: “Dosamu telah diampuni!”; “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat (=damai/ lešālôm ) (Luk.7:47.48.50) (bd. II,44f).  

Sapaan Yesus Yang Bangkit “ šālôm lakem “ mengajak murid-muridnya berdamai, menghentikan kebenaran masing-masing yang terungkap sewaktu mereka bercakap-cakap (berdebat/bertengkar). Mereka diajak mengkonsentrasikan diri dan menyatukan pendapat untuk dengar-dengaran pada Yesus. Mereka ditegor karena mereka sulit menerima dan melakukan šālôm yang disampaikan dan diperintahkan Yesus.

2.        Ayat 37-38: Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?
Reaksi para murid melihat Yesus yang muncul, menunjukkan bahwa dalam benak mereka ada gambaran dan pengenalan tentang hantu (Ibrani: ruah; Yunani: pneuma. Menterjemahkan ruah atau pneuma dengan “hantu” sangat berkonotasi negatif). Murid terkejut dan tak dapat memastikan apakah mereka melihat sosok yang semu atau sosok yang riil/nyata.  Biasanya roh (ruah/pneuma) tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Mereka terkejut, karena dalam benak mereka ada kepastian bahwa Yesus telah mati, dan tidak mungkin muncul di hadapan mereka. Apakah yang muncul itu “roh Yesus”? Lebih terkejut lagi, apabila mereka memang menganggap yang muncul di hadapan mereka itu “hantu”. Bagi murid itu sangat mengerikan apabila Yesus sudah menjadi “hantu”. Yesus tidak menelanjangi muridNya itu tentang pengenalan para murid itu tentang DiriNya, walaupun Dia tahu apa pendapat mereka. Misalnya, Yesus tidak mengatakan: Mengapa kalian menganggap aku ruah, pneuma, hantu? Tetapi Yesus bertanya: apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Ini pertanyaan yang mengajak masing-masing murid itu mengoreksi diri dan pendapat masing-masing. Segala yang membuat ragu harus mereka buang dari hati mereka. Mereka harus melangkah kepada kepastian atau iman Yesus-is (yang berdasar dan berpusat pada Yesus), bukan kepada kepastian teologis.

Sebenarnya dalam perdebatan teologi yang sudah pernah sangat merusak gereja adalah “bagaimanakah sosok Yesus yang sebenarnya”? Ada yang bersikukuh mengatakan: Yesus itu manusia biasa; Yesus itu semi manusia, semi Tuhan; Yesus itu anak Allah tetapi tidak menjadi manusia; Yesus itu anak Allah; Yesus itu Tuhan; Yesus itu bertubuh semu; Yesus itu tidak Allah, tidak Tuhan; Yesus itu hanya nabi, hanya mesias; dan banyak lagi usaha-usaha membuat “sosok Yesus” menurut bayangan pikiran mereka masing-masing. Dalam sejarah kekristenan, sudah sering kali kelompok-kelompok Kristen hancur-hancuran (saling menghancurkan/saling menuduh sebagai sesat) gara-gara masing-masing sok mempertahankan sosok Yesus yang dikenalnya. Mudah-mudahan hal itu tidak terulang kembali di kalangan kelompok-kelompok Kristen; antara Kristen dan Islam, serta antara Kristen dan Yahudi. Biarlah masing-masing menyaksikan, sejauh mana Yesus menyatakan diri kepada masing-masing, dan mengakui sejauh mana keterbatasan masing-masing “menangkap” penyataan Yesus yang nyata itu. Pernah Kelompok Kristen menegaskan tentang “sosok Yesus” dengan mengatakan: Yesus seratus persen Allah sekaligus seratus persen manusia. Ini merupakan rumusan  yang sangat teologis. Pengakuan Iman Rasuli mencoba menyaksikan sosok Yesus, sebagaimana Yesus menyatakan dirinya menurut Alkitab.

3.         Ayat 39-40: Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."  Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.
Yesus menolong mereka menghapus pendapat (baca juga: paradigma) mereka yang salah. Yesus membuktikan dirinya yang muncul itu bukan roh/ruah/pneuma, melainkan Yesus yang riil/nyata. Yesus menjelaskan bahwa Dia memiliki apa yang tidak dimiliki oleh apa (roh/ruah/pneuma) yang mereka anggap itu: hantu (baca juga: Yesus yang hanya berwujud roh) tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku. Kalau Yesus hanya berupa roh semata, Dia tidak manusia yang nyata. Yesus yang bangkit bukan semata-mata berupa roh, melainkan sebagaimana biasa Dia bergaul dengan muridNya. Kalimat Yesus, yang mengajak muridNya melihat kelebihanNya dari apa yang mereka bayangkan, sama bobotnya dengan kalimat: “Patung Yesus tidak punya suara dan kuasa, seperti yang kamu lihat ada padaKu!”; “Yesus yang historis ala Rudolf Bultman tidak punya keilahian, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku!”; “Yesus yang ilahi ala kaum gnostik tidak punya kemanusiaan historis, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku!”; “Yesus al-Masih ala al-Quran tidak punya kesatuan/keesaan dengan Allah Bapa, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku!” “Yesus yang hanya nabi belaka ala kepercayaanmu tidak punya kuasa memasukkan kamu ke sorga, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku!” “Yesus yang teologis menurut teologimu tidak menyentuh kerohanian umat-Ku, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku!” Agar jangan salah kenal, mari mengikuti ajakan Yesus.

Ajakan Yesus yang pertama di sini: Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah,.... Di sini para murid harus mempertajam indera penglihatan dan indera perasaan mereka dengan menggunakan mata dan tangan. Lihat... Raba! Mereka harus sampai menemukan diri Yesus, sebab Dia berkata: Aku sendirilah ini. Siapa yang mampu “melihat” adalah orang yang mampu membedakan mana sosok Yesus yang sebenarnya dari antara berjuta sosok Yesus yang bermunculan dari ide dan teologi manusia dan agama-agama. Siapa yang mampu “meraba” Yesus adalah orang yang mau dan mampu mendekat kepada Yesus dan bahkan merangkul Yesus atau “mijit-mijit” tubuh Yesus untuk tahu adanya tulang di tubuh-Nya. Siapa yang “menjauh” dari Yesus tak mungkin dapat “meraba” Yesus. Keterangan apapun tentang Yesus diberikan oleh orang yang “menjauh” dari Yesus, tak mungkin dapat dipercayai, karena keterangannya itu hanya karang-karangan saja. Sekarang pun, kalau anda ragu tentang Yesus yang bangkit itu, usahakan sampai anda menemukan Dia yang sebenarnya.

Yesus menunjukkan “tangan dan kaki-Nya”, tidak “membuka baju menunjukkan punggung-Nya”. Yesus menuntun murid-Nya mengenal Yesus yang tangan dan kaki-Nya dipakukan di kayu salib di Golgata. Mungkin di tangan dan kaki-Nya itu masih ada penanda untuk pemakuan itu. Artinya, bahwa Yesus yang harus ditemukan itu, harus sampai kepada pengenalan akan Yesus Yang Tersalib. Kalau yang ditemukan itu adalah Yesus yang menghindari salib (lalu pergi ke Kashmir) dan ada orang lain yang menggantikannya tersalib, itu bukan Yesus yang sebenarnya. Yesus yang riil/nyata dan menyatakan diri-Nya adalah Yesus yang tersalib di Golgata. Yesus al Masih yang tersalib itulah yang punya karya dan makna.

4.        Ayat 41-43: Ajakan Yesus berikutnya untuk meyakinkan murid-murid-Nya yang ragu-ragu adalah: Mengajak mereka memberikan makanan kepada-Nya.  “Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?"  Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.  Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.”  Memberi makanan kepada orang lain merupakan langkah yang pasti untuk menunjukkan, apakah yang memberi dan yang membutuhkan makanan  sudah memasuki damai sejahtera. Sapaan damai yang dikatakan Yesus dilanjutkan-Nya dengan meminta makanan kepada murid-murid-Nya. Dari murid itu tidak diminta ‘sesajen’, melainkan bagian dari makanan mereka. Murid-murid itu mengabulkan permintaan tersebut. Itu pertanda bahwa damai di antara murid dan Yesus telah mulai terjadi. Dengan memakan makanan berupa ‘ikan goreng’ itu, mereka semua diingatkan kepada pengalaman mereka bersama Yesus di tepi danau Galilea, yang sering  menikmati makanan berupa ikan. Murid diyakinkan bahwa wujud Yesus yang hadir di tengah mereka bukan sekedar ruah/pneuma/hantu. Sekali lagi, Yesus benar-benar “mengambil rupa sebagai manusia sejati”, demi menyelamatkan manusia. Pengalaman-pengalaman bersama Yesus di keseharian dapat membantu orang yang ingin mengenal Yesus yang sebenarnya untuk benar-benar bertemu dengan Yesus dan mengenal Dia dengan benar. Baik di zaman sekarang ini, manusia perlu bergaul dengan Yesus dalam hidup kesehariannya, agar manusia itu mengenal Yesus dengan benar. Di zaman sekarang pun, Yesus tidak meminta sesajen, melainkan bagian (bahkan sangat sedikit saja) dari apa yang dimiliki oleh manusia yang ingin mengenalNya dengan benar. Dalam hal ini, manusia itu harus mendengar apa yang diminta Yesus, untuk memenuhi kebutuhan “tubuh”-Nya. Semua orang tahu siapa yang dimaksud dengan “tubuh Kristus” di zaman sekarang.

5.         Ayat  44-46: Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."  Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.  Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,”
Ajakan yang ketiga dari Yesus kepada murid-murid-Nya adalah agar murid-murid-Nya kembali mengingat apa yang dikatakan kitab Taurat Musa, kita nabi-nabi dan kitab Mazmur tentang Yesus. Setiap orang yang menerima tiga kitab ini sebagai kitab suci mereka (Yahudi, Kristen, Islam) harus memahami pemberitaan kitab itu  dengan benar. Itu sesuai perintah Yesus. Ukuran memahami isi kitab-kitab itu dengan benar adalah menemukan “penggenapan nubuatan” yang ada dalam kitab-kitab itu dalam diri Yesus. Kalau seseorang gagal sampai ke sana, maka pasti seseorang itu tidak dapat mengenal Yesus yang sebenarnya dengan benar. Paulus, Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Petrus, Penulis surat Ibrani, Yakobus, Yudas, sampai kepada penemuan “penggenapan nubuatan” itu, sehingga masing-masing dari mereka menulis kesaksian-kesaksian  yang menjadi bagian dari kitab Suci umat Kristen. Untuk dapat menemukan penggenapan nubuatan-nubuatan itu, pikiran harus terbuka, tidak boleh tertutup. Yesus sendiri yang mengetuk pintu pikiran itu agar terbuka atau dibuka. Tak perlu orang yang diketuk pintu pikirannya mengeraskan hati. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani  4:7b). “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”  (Wahyu 3:20). Orang yang percaya hanya karena dapat memikirkan tentang Yesus, dia tidak sampai menemukan penggenapan nubuatan dalam Perjanjian Lama itu. Pikiran seperti itu masih merupakan pikiran yang tertutup. Pikiran yang terbuka adalah pikiran yang mengikuti perintah Yesus, dan yang mau percaya tentang Yesus walaupun banyak yang tidak sesuai dengan pikirannya itu. Lalu dia berpikir karena percaya, bukan percaya karena berpikir.

Yesus mengatakan bahwa ada tertulis: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Tertulis di sini berarti ada dokumen yang memberitahu bahwa Mesias harus menderita, dan ada juga yang memberitahu Mesias akan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Yesus sendiri sudah memberitahu kepada murid-murid-Nya tentang pederitaan-Nya dan kebangkitan-Nya, sebelum Dia disalibkan. Mungkin itu sudah Dia tuliskan, agar murid-murid-Nya tidak lupa. Tetapi tentang Mesias yang menderita sudah diberitakan dalam kitab Yesaya pasal 53. Tentang kabangkitan Mesias pada hari ketiga sudah tersirat dalam pengalaman Yunus di perut ikan. Dan Yesus memberikan itu contoh untuk kebangkitan-Nya (bd. Mat 12:40; 16:4). Di zaman sekarang, para komentator tentang Yesus, perlu senantiasa bertobat, sehingga motivasi mereka menulis dan membahas tentang Yesus tidak berdasar kepada hati/pikirannya yang menyangkal, tetapi sedikitnya mau objektif mengikuti apa yang diajarkan Yesus tentang diri-Nya sendiri.

6.        Ayat 47-49:  “dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.  Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi."
Yesus bangkit dan menampakkan diri bukan hanya sekedar pamer kemenangan atas maut, tetapi Dia datang untuk memberi tugas memberitakan tentang  pertobatan dan pengampunan dosa, bukan untuk balas dendam atas penyiksaan dan penyaliban Yesus. Dalam Yesus, setiap jenis dan alasan balas dendam dihapus dan harus dihapus dari setiap diri dan batin manusia. Inilah jenis pertobatan yang pertama, yang diminta dari pengikut Yesus dan dari yang bukan pengikut Yesus. Dendam dan balas dendam harus terhapus dari kehidupan manusia di bumi. Itu masih mengherankan, apabila sampai sekarang masih ada kelompok-kelompok agama yang selalu mengobarkan dendam lama atas nama ajaran agama dan kepercayaan untuk membasmi kelompok (pengikut agama) yang lain. Dendam dan usaha balas dendam adalah akar dari segala macam kekacauan atau perseteruan antar kelompok (antar umat beragama). Pertobatan berdasarkan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing merupakan langkah pertama menunju terwujudnya kerukunan dan perdamaian atas umat beragama (antar kelompok). Memberitakan pertobatan di zaman sekarang semakin perlu. Itu tugas semua tokoh agama dan tokoh masyarakat dari semua kalangan (bukan hanya tugas Kristen). Sangat di sayangkan, Yerusalem pusat agama Yahudi, Kristen dan Islam, sampai sekarang belum menglamai damai yang diserukan Yesus. Akarnya adalah bahwa manusia-manusia yang hidup di Yerusalem masih mengutamakan dendam dan usaha balas dendam. Mereka semua tidak mau bertobat menurut ajaran agama masing-masing, walaupun setiap agama Abrahamistis ini mengajarkan kasih dan salom. Memberitakan pertobatan sampai sekarang masih harus dimulai dari Yerusalem. Sudah waktunya semua tokoh terutama dari tiga agama ini mau menandatangani fakta pertobatan mereka yang harus diikuti oleh semua umatnya, sehingga Yerusalem mengalami damai dan dapat saling mengasihi. Mengapa hanya pemimpin-pemimpin negara Yahudi, Palestina, dan Arab yang harus diajak berdamai di PBB, mengapa tokoh utama setiap agama yang dianut penduduk Yerusalem tidak berinisiatif mendamaikan diri mereka dan umat-Nya? Bertobatlah. Jangan takut ditembak mati seperti Anwar Sadat dan Ishak Rabin, karena mempelopori perdamaian, sebagai buah pertobatan.

Memberitakan pengampunan dosa sungguh sangat utama dari sejak dulu sampai sekarang, dan tugas ini masih belum selesai sampai sekarang. Perlu disadari, bahwa Yesus diberitakan mulai dari kelahirannya sampai kematian dan kebangkitannya dalam kitab-kitab Injil, bukan untuk memberitakan tentang banyaknya dosa umat manusia terhadap Yesus, melainkan bermaksud untuk memberitakan pengampunan dosa oleh TUHAN Allah kepada seluruh umat manusia.  Sungguh banyak dosa, bahkan kebenaran menurut sekelompok manusia dianggap dosa oleh kelompok manusia yang lain. Jadi tidak perlu dosa-dosa itu didaftarkan di manapun. Semua tuhan atau allah yang dikenal oleh kelompok-kelompok umat beragama, selalu mengajarkan bahwa sungguh tidak penting mencatat dan mendaftarkan dosa di kalangan masing-masing. Yesus juga mengajarkan demikian. Yang dituntut dari setiap manusia adalah “mengaku dosa” (sebagai bagian dari pertobatan), tetapi bukan menjadi dasar untuk menghukum orang yang mengku dosa itu, melainkan untuk dapat mengampuninya. Mengampuni dosa lebih mulia dari pada menghukum orang karena berdosa. Yesus mengerahkan semua pengikutnya untuk memberitakan pengampunan dosa dan betapa pentingnya sampai zaman sekarang pengampunan dosa itu.

Karena tugas memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa adalah pekerjaan tersulit dan terberat sepanjang masa, dari sejak kebangkitan Yesus hingga sampai akhir zaman,  maka sangat dibutuhkan  perlengkapan ilahi dari TUHAN bagi pemberitanya. Kuasa ilahi dari TUHAN sangat dibutuhkan oleh pangikut Yesus (baca: pemberita pertobatan dan pengampunan dosa). Allah Bapa menjanjikan Roh-Nya yang Kudus menyertai para pengikut Yesus. Untuk menerima kuasa itu, para murid Yesus diminta agar tinggal dalam kota sampai perlengkapan ilahi itu diberikan. Jadi harus dipersiapkan diri, tempat dan suasana dalam rangka menerima perlengkapan ilahi (kuasa Roh Kudus) dari TUHAN. Suasana hati yang paling utama dipersiapkan adalah: Menghapus segala bentuk amarah dan dendam para murid terhadap para Anti-Yesus, dan digantikan dengan rasa belas kasihan, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat itu terhadap Yesus. Nanti dalam perayaan Pencurahkan Roh Kudus akan diterangkan betapa indahnya hidup dengan kuasa Roh Kudus.

7.        Kesimpulan
Yesus bangkit dan menampakan diri agar semua murid-Nya mengenal Dia lebih benar dan agar seluruh umat manusia tahu bahwa Yesus yang sebenarnya dapat dikenal kalau manusia mengikuti perintah Yesus, dan menemukan penggenapan nubuat di dalam kitab Taurat, Kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur dalam diri Yesus, dan untuk menyuruh para murid dan pengikutnya dan pecinta damai sejahtera di seluruh umat manusia memberitakan  pertobatan dan pengampunan dosa. Untuk itu mereka pasti diperlengkapi kuasa ilahi. Berbahagialah seluruh umat manusia / bangsa-bangsa karena bagia mereka masih terbuka pintu pertobatan dan pengampunan dosa.

Ditulis oleh Pdt. Langsung Maruli Basa Sitorus (Pdt. LaMBaS). Tgl. 15 Oktober 2015. 

BAHAN KHOTBAH 3 APRIL 2016: QUASIMODOGENITI


EPISTEL:  YOHANES 20: 19 – 31.

20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

EVANGELIUM: MAZMUR 150

150:1 Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat!
150:2 Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!
150:3 Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!
150:4 Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!
150:5 Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!
150:6 Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Pengantar

1.        Khotbah dengan menggunakan perikop Mazmur 150 akan disampaikan di kebaktian 3 April 2016  yang diberi nama minggu Quasimodogeniti (yang sering diartikan dengan: “Seperti bayi yang baru lahir”).  Dalam kalender gerejawi, minggu Quasimodogeniti berada di antara minggu Paskah (Kebangkitan Yesus Kristus) hingga Hari Perayaan Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga. Itulah masa 40 hari Yesus yang bangkit kembali mengajar dan memperlengkapi murid-murid-Nya agar berani bersaksi, lalu mengutus para murid-Nya itu pergi memberitakan Injil. Minggu Quasimodogeniti adalah minggu pertama setelah perayaan Paskah. [Selanjutnya: Misericordias Domini (Nyanyikanlah Kasih Setia TUHAN); Jubilate (Bersorak-soraklah Bagi Allah, hai Seluruh Bumi); Kantate (Nyanyikanlah Nyanyian Baru Bagi TUHAN); Rogate (Berdoalah)]. Dalam minggu 3/4/2016 diharapkan Pengkhotbah dapat memperhatikan isi Mazmur 150 untuk memenuhi kabutuhan para pendengar di minggu Quasimodogeniti (“Seperti Bayi Yang Baru Lahir”).

2.        Epistel untuk minggu 3/4/2016 diambil dari Yohanes 20: 19 – 31 yang memberitakan tentang Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada apra murid-Nya dan kemudian kepada Tomas. Epistel ini merupakan perikop sejajar dari pada evangelium yang dikhotbahkan pada perayaan paskah di hari kedua tahun 2016 (28 Maret). Tetapi di Injil Lukas tidak diberitakan tentang Tomas yang diminta mencucukkan tangannya ke bekas pemakuan di tangan Yesus dan ke dalam lambung Yesus, ke mana serdadu menikamkan lembing untuk memastikan Yesus waktu penyaliban-Nya sudah mati. Tomas dan para pengikut Yesus diajak oleh Yesus agar mau seperti “bayi yang baru lahir”, yakni agar mereka berbahagia karena percaya kepada berita tentang Yesus, walaupun mereka sendiri tidak melihat langsung peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus dan tidak sempat menjamah tubuh Yesus yang memiliki bekas luka karena tangan-Nya dipaku ke kayu salib dan lambungnya ditusuk dengan lembing. Kebahagiaan itu dapat diungkapkan dengan ber-Haleluya, dan mengajak seluruh isi bumi berdoxologi, memuji TUHAN, berhaleluya, seraya merenungkan bertapa hebatnya keperkasaan dan kebesaran TUHAN dalam karya penyelamatan seluruh isi bumi (manusia dan segala ciptaan) melalui peristiwa Golgata dan Kebangkitan Kristus atau melalui peristiwa Paskah dalam dan oleh Yesus Kristus.

3.        Mazmur  (dibahasa Indonesiakan dari kata Ibrani mizmor, yakni “nyanyian yang didendangkan dengan diiringi oleh alat musik petik, seperti harfa, kecapi, dan lain-lain). Dalam bahasa Yunani kata mizmor diterjemahkan dengan psalmos (banyak: psalmoi). Kemudian kata Yunani ini dibahasa-batak-tobakan menjadi psalmen, Inggris: psalm; Jerman: Psalmen. Kata benda psalmos dari kata kerja psallo, yang atinya “mendentingkan” “memetik” alat musik. Ber-psallo berarti memainkan alat musik denting/petik. (bd. Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, PT BPK GM, 1996, h.41).  Di kalangan kaum Ibrani, mizmor hanya satu jenis dari nyanyian, yang dinamai dari segi alat yang dimainkan sewaktu menyanyikannya, bukan dari segi isi dan syair-syairnya. Banyak lagi jenis nyanyian ada di dalam kitab Mazmur, sehingga kaum Ibrani tidak menamai kitab itu kitab MAZMUR, seperti dilakukan orang Indonesia (termasuk orang Batak Toba), tetapi menamai buku kumpulan nyanyian ini dengan tehillim (yang diterjemahkan dengan “puji-pujian” diartikan dengan “nyanyian pujian”). Tehilla (satu nyanyian pujian) juga merupakan satu jenis dari nyanyian yang dikumpul dalam kitab ini. Tetapi, karena semua jenis nyanyian yang ada di kitab Mazmur, ditinjau dari sudut isinya, dipandang sebagai puji-pujian kepada TUHAN, maka kitab itu cocok dinamai kumpulan tehilla, sehingga kitab itu diberi nama kitab TEHILLIM. Karena semua nyanyian dalam kitab Mazmur dapat dinyanyikan dengan diiringi alat musik (termasuk alat musik petik/denting), entah itu bermelodi sedih, riang, menyembah, memuji atau berupa melodi mengiringi tari, dansa, mars, joket, dll.), maka kitab itu dinamai kitab MAZMUR.

4.        Kitab Mazmur dibagi dalam lima jilid, yakni jilid pertama (seper rason): Mzm. 1 – Mzm.41; Jilid II (seper seni): Mzm.42- Mzm.72; Jilid III seper selisi): Mzm. 73 s/d. Mzm. 89; Jilid IV (seper rabi‘i): Mzm.90 – Mzm. 106; Jilid V (seper hamisi): Mzm. 107 – 150. Penjilidan ini tidak lagi berdasarkan siapa penggubah mazmur yang ada itu (misalnya:
Mzm.3-41; 51-71; 86; 101; 103; 108; 109; 110; 122; 124; 131; 133; 138; 139; 140; 141; 142; 143; 144; 145 digubah oleh Daud;
Mzm.42-49; 85; 87; 88  digubah oleh Korah;
Mzm. 72; 127 digubah Salomo;
Mzm.50; 73-83 digubah oleh Asaf;
Mzm. 89 digubah oleh Etan orang Ezrahi;
Mzm. 90 digubah oleh Musa;
sedangkan Mazmur lainnya:
Mzm. 1; 2; 84; 91; 92; 93; 94; 95; 96; 97; 98; 99; 100; 102; 104; 105; 106; 107; 111; 112; 113;114;115; 116;117; 118; 119; 20; 121; 123; 125; 126; 128; 129; 130; 132; 134; 135; 136 137; 146; 147; 148; 149; dan 150   digubah oleh orang yang tidak diberitahu nama-nama mereka. Tidak diberitahu siapa pengarang dan penggubah Mazmur 150.
Jadi pekerjaan memasukkan nyanyian-nyanyian itu dan penjilidannya tidak ditentukan berdasarkan siapa pengarang atau penggubahnya; melainkan pada semangat lima pilar penopang iman umat Israel (lima kitab Musa (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan); lima Megilloth (gulungan kitab: 1. Kidung Agung; 2. Ruth; 3. Pengkhotbah; 4. Ester; 5. Ratapan); lima bagian kitab suci (1.Tora; 2.Nebiim haresyonim (Nabi-nabi terdahulu); 3. Nebiim haakhirim (nabi-nabi terkemudian, yaitu nebiim hagedolim/nabi-nabi besar; Nebiim haqatonim/nabi-nabi kecil); 4. Tehillim; 5. Hokma); lima rukun hidup beragama umat Israel: (1. shema Israel (bersahadat/beriman); 2. beribadah (doa/sembah TUHAN tiga kali sehari); 3. berkurban (memberi persembahan/kurban); 4. berbuat (hidup sesuai ajaran hukum-hukum Israel); 5. berziarah ke Yerusalem). Di setiap jilid kitab Mazmur terdapat berbagai jenis Mazmur dan corak isi Mazmur. Jadi penjilidan juga tidak didasarkan pada jenis atau kesejajaran isi dari mazmur-mazmur yang ada itu. Penjilidan berdasar pada pengungkapan pergumulan hidup dan iman di dalam hari-hari perayaan yang dilakukan umat Israel. Hari-hari perayaan itu: 1. Hari Raya Sabbat; 2. Hari Raya Paskah termasuk di sini Hari Raya Roti Tidak Beragi (Hari Raya Pentakosta); 3.Hari Raya Tujuh Minggu bagi TUHAN/Hari Raya Menuai/Panen; 4. Hari Raya pondok Daun;  5. Hari Raya Purim. Di setiap hari raya itu  dinyanyikan tehilla dari berbagai corak dan berbagai isi. Kalau di bagian akhir salah satu  Mazmur itu tidak ada doxologi, mereka mengambil Mazmur doxologi (seperti Mazmur 150) untuk menyampaikan puji-pujian kepada TUHAN. Mazmur terpendek adalah Mzm 117 (dua ayat) sedangkan terpanjang adalah Mzm. 119 (176 ayat). Pada umumnya setiap Mazmur yang ada dalam kitab Mazmur (Tehillim) mengungkapkan pergumulan hidup pemazmur (atau hidup umat menurut pemazmur) selaku orang/umat beriman di hadapan TUHAN atau dalam hubungan dia/mereka dengan TUHAN, setelah mengevaluasi/menilai diri sendiri atau diri umat dan/atau manusia atau alam atau lingkungan di sekelilingnya dalam konteks/ukuran ber-Tuhan kepada TUHAN (Yahowa). Oleh karena itulah bisa saja di sana terungkap: sukacita, ajaran, kesedihan, berkat, kutuk, puji-pujian, kekecewaan, keberuntungan, kesaksian, pengakuan dosa, penyesalan, kekesalan. keberadaan diri sebagai rakyat TUHAN, dan lain-lain. Mazmur 150 berisi puji-pujian dan ajakan memuji (ber-haleluya), yang punya alasan.

5.        Memahami Teks Mazmur 150
Mazmur (mizmor) 150 adalah mazmur pujian, mazmur ber-halelu-ya atau ber-HALLEL bagi YAhowa (TUHAN). Hallelu-Ya: Mari “Kita puji TUHAN”. Isi Mzm 150 menyatakan: 1. di mana TUHAN dipuji (ayat 1) (Where); 2. Apa alasan memuji (ayat 2) (Why); 3. Dengan apa TUHAN dipuji (ayat 3-5) (with What); 4. Siapa-siapa  yang perlu memuji TUHAN (ayat 6) (Who). 5. Apa isi pujian? (ayat 1-6) (What).
Ayat 1: Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat!
a.         Seruan pertama dalam mazmur (yang bukan sekedar tehilla) ini adalah “haleluya”. Di zaman penulisan mazmur ini (sampai sekarang) segala yang bernafas diharapkan bisa ber-haleluya (Islam: tahlilan). Hallel + Ya(howa), artinya: Puji TUHAN, Pujian bagi Yahowa). Mazmur yang diawali dengan seruan haleluya: Mzm. 106; 111; 112; yang diahkiri dengan haleluya: Mzm. 104; 105; 106; 115; 116; 117; sedangkan yang diawali dan diakhiri dengan haleluya: Mzm. 113; 135; 146; 147; 148; 149;150 selalu dimulai dengan seruan “haleluya”. Di setiap ayat dalam Mzm.150 digunakan kata hallel. Biasanya seseorang ber-haleluya karena seseorang itu mengalami hal-hal yang indah atau keselamatan, berkat atau kebaikan TUHAN, atau karena dia rasakan/saksikan, alami tindakan-tindakan TUHAN yang mendatangkan yang terbaik bagi pemazmur atau bagi umat TUHAN menurut pemazmur. Umat Kristen spontan ber-halleluya dalam liturgi kebaktian pemujian setelah mereka mendengar baccan Firman TUHAN di awal kebaktian itu. Karena dalam kebaktian diberitakan kebaikan TUHAN dan keselamatan serta berkat dari TUHAN, maka kebaktian itu diakhiri dengan doxologi ber-halleluya. Martin Luther tidak membahas “haleluya” dalam karya-karyanya. Etimologi kata haleluya dari bahasa Akkad alālu, elēlu yang artinya bersorak, (Jerman: am Fest jubeln; Inggris: shout in festival joy (berteriak di festival sukacita); atau “Jerman: trillern,Inggris:  sing with trills = menyanyikan dengan suara bergetar). Arti ini juga terkandung dalam kata Ibrani halal II. Artinya: memuliakan, memuji, mengagungkan, meninggikan sesuatu/seseorang. Apa yang dikatakan, apa yang digayakan sewaktu memuliakan/memuji/mengagungkan dst. tergantung pada apa yang positif, yang baik dilihat/dirasakan dari yang dimuliakan/dipuji itu. Kata-kata memuji misalnya: engkau cantik, engkau pandai, engkau perkasa, dll. Kalau seseorang diajak memuji Yahowa, berarti dia diajak untuk mengungkapkan kebaikan apa yang sudah dilakukan TUHAN Yahowa kepada/bagi dia, dan selanjutnya dia diajak untuk membalas kebaikan TUHAN tersebut sesuai dengan yang diharapkan oleh TUHAN. Seperti bayi yang baru lahir dia melakukan hal itu. Misalnya , kalau bayinya telah dibuat kenyang minum susu, maka bayi itu membalasnya dengan tidak lagi cengeng minta diberi makanan susu.

b.        Yahowa itu adalah ’El (bahasa Arabnya: al-’ilah). Yahowa itu juga Hu. Berhallel untuk ’El atau Hu (Dia) berarti berhallel untuk Yahowa. Tuhan Hu dan Allah-Hu sama saja, yakni Yahowa (YHWH). Nama ‘Yahowa’ berarti ‘Dia ada” dan ‘Dia membuat ada’. ’El artinya yang Awal, Yang Pertama dan Yang Utama. Yesus (Ibraninya: Yesu‘a/Yehosu‘a (Yahowa Menyelamatkan) adalah Anak Allah Yang Mahatinggi dalam arti Penampakan Allah Yang Mahatinggi; dan juga disebut Alpha dan Omega (Yang Awal dan Yang Akhir). Nama-nama dari TUHAN Allah yang satu ini memberi petunjuk mengapa sgala yang bernafas diajak untuk memuji DIA atau berhallel bagi DIA.

c.         Yahowa ’El(ohim) dipuji di (dalam) tempat kudus-Nya, di (dalam) cakrawala-Nya yang kuat.
Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya (beqodso)! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat (birqiy‘a ‘uzzo)! Awalan be di beqodso dapat diartikan dengan ‘sesuai’ atau ‘menurut”. Jadi beqodso dapat berarti “sesuai/menurut kekudusan-Nya”, karena kata qados bisa kata sifat, bukan kata benda. Sedangkan awalan  be dalam  kata birqiy‘a uzzo harus diartikan sebagai petunjuk tempat, yakni di atau dalam, karena raqi‘a (cakrawala) hanya berupa kata benda, tidak bisa kata sifat. Pemazmur mengajak segala makhluk ber-halleluya sesuai dengan kekudusan TUHAN di (dalam) cakrawala yang kuat, yang diciptakan TUHAN. Dalam pemahaman ini dapat disimak, bahwa berhalleluya itu dapat dilakukan di tempat manapun yang ada di dalam lingkup cakrawala (di bumi yang ada di bawah langit), bukan hanya di Bait Allah yang ada di Yerusalem. Yang penting diperhatikan bahwa berhalleluya itu harus sesuai dengan (Jerman: gemäß) kekudusan TUHAN. Memang TUHAN memerintahkan: “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im.19:2; 1 Ptr.1:16; bd. Im.20:7). “Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku” (Imamat  20:26).
Raqi‘a (cakrawala, yang juga dinamai langit/Ibraninya: shamayim) adalah yang diciptakan TUHAN Allah pada hari kedua. Fungsinya  untuk memisahkan air dari air, yakni air yang ada di atas langit dan air yang ada di bawah langit (= di bumi) (baca Kej.1:6-8). Cakrawala ini dipandang sangat kuat (‘az), karena dia mampu menahan semua air yang ada di atasnya sehingga air itu tidak tercurah sekaligus ke bumi untuk melanda bumi. Berita Air Bah mengajarkan bahwa sewaktu tingkap-tingkap langit (cakrawala) dibuka, maka air meluap dari langit dan terjadilah air bah yang memusnahkan penghuni bumi, kecuali Nuh dan keluarganya yang mematuhi perintah TUHAN. Kalau cakrawala itu tidak kuat, maka bumi akan mengalami hal yang lebih dahsyat lagi dari air bah. Pemberian Allah inipun menjadi alasan untuk memuji TUHAN Allah.

Ayat 2: Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!
a.         Dalam ayat 2 ini pemazmur memberi alasan mengapa harus memuji (berhalleluya) bagi TUHAN. Dikatakan di sana: bigeburotaw (LAI: karena segala keperkasaan-Nya). Geburah berarti “perkasa, kekuasaan, kemenangan, kemegahan, kepahlawanan” (lht. Achenbah, h.44). TUHAN Allah itu diakui sebagai gibor yakni “yang kuat, yang berkuasa, pemegang kekuasaan, pahlawan” (lht. Achenbah, 44). (Jerman: Kraft, Stärke; Mzm. 147:10; Ayub 39:10; 41:4; Pkh. 9:16; Hak.8:21; Yes. 28:4; Yer.9:22, Genius, Handwörterbuch, s.126). Yang perkasa adalah orang yang kuat dan menang dalam perang. Awalan be  dalam bigeburotaw diartikan dengan “karena”.  Dibalik kata geburotaw (keperkasaan-Nya; kepahlawan TUHAN) orang yang berhalelluya dapat “menghitung” berapa banyak hal-hal yang telah dilakukan TUHAN Allah untuk menyelamatkan Israel/umat-Nya. Dari sejak penciptaan langit dan bumi, penyelamatan Nuh dari Air Bah, pemanggilan Abraham, penuntunan ke Mesir, membawa keluar dari Mesir, pengalaman umat Israel di padang gurun, memasuki tanah perjanjian, di masa Hakim-hakim, di masa Kerajaan, di masa pembuangan ke Babel, masa Ester, pengembalian dari Babel ke Yehuda, masa Ezra, Nehemia, masa penjajahan Yunani, masa penjajahan Romawi di Yerusalem, masa penyelamatan oleh Yesus Kristus, masa Israel Baru (umat Huria), 2000 tahun perjalanan huria hingga masa sekarang. Sungguh banyak yang dapat diberitakan tentang kepahlawanan TUHAN Allah membela umat-Nya. DIA pantas dipuji. Mari rumuskan masing-masing pemujian untuk DIA, baik dengan khotbah ini, maupun dengan karya tulis, karya seni, dan karya-karya lainnya seperti pembentukan generasi setia pada TUHAN Allah dalam Yesus Kristus.
b.        Di ayat 2 itu dikatakan kerob gudelo (LAI: sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat. Imbuhan ke dapat juga (lebih tepat) dengan “karena banyak/hebatnya kebesaran-Nya”. Awalan  ke  biasanya menunjuk kepada alasan. Rob artinya banyak (LAI: hebat). Tak mungkin seseorang memuji TUHAN sesuai dengan banyak/kehebatan TUHAN, karena seseorang tidak bisa memastikan bobot kehebatan itu, tetapi bisa memberitakan karya-karya TUHAN yang sangat hebat dalam perjalanan sejarah, yang sudah disaksikan dalam Alkitab. TUHAN hebat karena mahakuasa, mahatahu, mahabisa, pada TUHAN semuanya maha, lalu tak mungkin memuji TUHAN sesuai ke-maha-an TUHAN tersebut. Tetapi memuji TUHAN dapat dilakukan karena TUHAN sudah menunjukkan banyak sekali kebesaran-Nya. Dalam setiap peristiwa di masa-masa yang disebutkan di atas, TUHAN menunjukkan banyak sekali kebesaran-Nya tersebut. Orang percaya dapat menghitungnya, lalu mengaguminya, mempercayainya, merumuskannya, dan kemudian memuji TUHAN oleh karena semuanya itu, seraya mengharapkan bahwa kebesaran TUHAN itu juga masih akan DIA tunjukkan kini dan di sini. 

Ayat  3 – 5: Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!
a.         Dalam ayat-ayat ini diberitahu peralatan-peralatan musik yang dapat digunakan memuji TUHAN mengiringi nafas/suara segala yang bernafas/segala makhluk ciptaan: manusia, hewan, tumbuhan, bahkan bumi sebagai ciptaan yang hidup). Alat musik itu: 1) theka‘ sopar (LAI: sangkakala; Batak Toba/BT: sarune); 2) nebel (LAI: gambus; BT: arbab; taganing); 3) khinor (LAI:kecapi; BT: sordam; hasapi); 4) top (LAI: rebana; BT: tali sajak; taganing); 5) minim (LAI: permainan kecapi; Achenbach: juga berarti senar; BT:hasapi; ); 6) ‘ugab (LAI: seruling; BT: tulila; sulim); 7) tziltzele-shama (LAI: ceracap berdenting; BT:ogung panggora; ogung nasihil); 8) tziltzele-teru‘ah (LAI: ceracap berdentang; BT: ogung panonggahi; ogung nabongor). Lihatlah gambar alat-alat musik ini dalam Kamus Purbakala Alkitab. Masih ada lagi alat musik yang tidak disebutkan di sini. Itupun dapat dimainkan untuk memuji TUHAN. Menggunakan alat-alat musik ini dengan suara yang satu dengan yang lain serasi, dan enak didengar telinga, bahkan mengundang turut bersukacita dan menari, sudah termasuk pada pekerjaan ‘memuji TUHAN Allah’. Bahkan dapat menjadi sarana mengusir iblis atau roh jahat yang datang mengganggu. Tetapi memainkan alat-alat musik ini secara bersama-sama sehingga terdengar suara yang hingar bingar saja dan merusak pendengaran, itu bukan memuji TUHAN Allah, melainkan menghina-Nya. Adalah tugas masyarakat dan huria mempersiapkan dan melatih orang-orang yang dapat dan mahir memainkan alat-alat musik yang banyak itu. Para pemain musik yang baik akan terpuji di bumi, dan akan menjadi rombongan malaikat memainkan musik di sorga. TUAHN mengharapkan semakin banyak pemusik masuk sorga.

b.        Satu yang bukan alat musik, yang dikatakan di sini sebagai sarana memuji adalah “tari-tarian” (BT: tortor na marliat; Ibrani: mahol). Menari dengan asal ada saja termasuk kepada pekerjaan menghina TUHAN Allah, bukan memuji-Nya. Menari di hadapan TUHAN Allah harus benar-benar indah dan menyenangkan mata TUHAN Allah yang melihat. Maka menari itu harus terlatih. Adalah kewajiban umat TUHAN melatih diri masing-masing dan kelompok-kelompok hingga mantap menari, dan pasti terpuji apabila ditampilkan di hadapan manusia dan di hadapan TUHAN. Ada berbagai macam tari-tarian. Itu semua dapat dibuat sebagai sarana memuji TUHAN, kecuali tari yang tidak menunjukkan kekudusan atau kesucian. Para penari yang memuliakan TUHAN akan sangat terpuji di bumi, dan menjadi kelompok utama di sorga.

Ayat 6: Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya! 
a.         Di atas disebutkan bahwa segala yang bernafas (kol hannesamah) adalah segala makhluk ciptaan: manusia, hewan, tumbuhan, bahkan juga bumi apabila dipandang sebagai ciptaan yang bernafas. Semua yang bernafas menjadi makhluk hidup. Manusia menjadi makhluk (ciptaan) yang hidup setelah TUHAN menghembuskan nismat hayah (nafas hidup) ke dalam hidungnya.  ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup (nismat hayah) ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (nefes hayah)” (Kej. 2:7). Dari itu dapat disimpulkan bahwa setiap yang bernafas (hannesamah) adalah makhluk hidup, yang dapat memuji TUHAN Allah, Penciptanya. Sedikitnya ada tiga macam makhluk hidup yang bernafas, yakni: segala macam manusia, hewan dan tumbuhan. Di antara segala yang benafas ini ada yang bersuara (manusia dan hewan) dan ada yang tidak bersuara, yakni tumbuhan. Di antara yang bersuara itu ada yang bisa mengatur suaranya, bisa mengubah-ubah suaranya, bisa berkata-kata, suaranya bisa tinggi, bisa rendah, bisa bas, bisa tenor, bisa sopran, dan bisa alto; bisa solo dan bisa koor. Sedangkan hewan pada umumnya hanya bisa menyuarakan suara yang sama (misalnya: kambing mengembik; kerbau melenguh; kuda meringkik; burung berkicau, masing-masing hewan punya suara khas khusus), tetapi suaranya  bisa pelan dan bisa kuat. Kecuali burung beo atau kakaktua yang dilatih dapat mengucapkan kata-kata manusia. Melihat kenyataan ini, dapat dikatakan bahwa memuji TUHAN Allah itu – menurut pemazmur - bukan hanya dengan perkataan atau suara-suara yang diucapkan, tetapi suara dan kata-kata dari setiap yang bernafas itu hanya merupakan salah satu dari sarana memuji TUHAN Allah (Yahowa El(ohim). Yang paling utama dalam memuji TUHAN adalah menggunakan nafas hidup (hannesamah) itu sebagaimana fungsi dan tujuannya, yakni membuat hidup, dan hidup itu dinilai TUHAN menjadi membuat segala sesuatunya (semua-semuanya) “sungguh amat baik” (bd. Kej.1:31). Setiap manusia harus hidup, jangan ada yang menjadi mati. Kalau mati di bumi, biarlah dia hidup di sorga. Manusia yang hidup janganlah menjadi musnah, dan manusia yang hidup sama sekali tidak memusnahkan yang bernafas yang lainnya. Manusia ditugaskan untuk "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej.1:28), dan dalam melaksanakan tugas ini manusia wajib: “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej.2:15b). Semua bagian bumi yang dihuni hewan dan ada tumbuh-tumbuhan adalah taman yang diserahkan TUHAN untuk dipelihara oleh manusia. Tujuan pemeliharaan taman itu adalah agar: 1) agar segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, sepanjang zaman/waktu dapat menikmati segala tumbuh-tumbuhan sebagai makanan mereka (bd. Kej.1:30). 2) agar manusia tanpa kecuali dapat menikmati dengan bebas segala tumbuhan berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji sebagai makanan mereka (bd. Kej.1:29 dan Kej.2:16). Tanpa pengusahaan dan pemeliharaan atau pelestarian semuanya itu, tidak mungkin terwujud tujuan mulia yang diperintahkan TUHAN itu. Dan kalau tujuan itu tidak terwujud berarti segala yang bernafas (terutama manusia) tidak memuji TUHAN. Kelalaian manusia berusaha mencapai tujuan itu berarti manusia menghancurkan diri mereka sendiri.

b.        Juga hewan-hewan dikehendaki oleh TUHAN agar tidak ada dari antara mereka yang menjadi musnah atau memusnahkan hewan lain. Walaupun di antara hewan-hewan itu ada binatang buas, yang memangsa binatang yang lain, dia justru dimaksudkan bukan untuk memusnahkan binatang lain, tetapi menjadi alat TUHAN menggunakan binatang yang sudah lemah. Singa-singa yang buas di Siranggetti masih tidak lebih rakus dari manusia, dan tak pernah berbuat untuk memusnahkan para antilop dan rusa, kerbau, dan hewan lainnya yang ada di sana. Jenis-jenis hewan yang diciptakan TUHAN itu tidak boleh hanya menjadi benda pajangan di ruangan-ruangan museum binatang. Setiap jenis hewan itu harus hidup sejahtera di habitat mereka masing-masing. Mereka sangat berguna untuk manusia dan tumbuhan dan untuk kehidupan. Hal seperti inilah menjadi pujian yang paling merdu di hadapan TUHAN.

c.         Dan tumbuh-tumbuhan, yang daun dan buah atau biji-bijinya dinyatakan TUHAN sebagai makanan bagi manusia dan hewan, harus melestarikan diri sendiri dan juga harus dilestarikan oleh manusia dan oleh hewan-hewan. Tumbuh-tumbuhan harus tumbuh sehat, dan mengembang-biakkan dirinya. Tumbuhan yang tidak mampu mengembangbiakkan dirinya sendiri harus dibantu oleh manusia dan oleh hewan-hewan. Kalau manusia sudah diberikan keahlian membuat hewan dan dan tumbuhan bisa ada kembali dengan mengolah gen dari hewan atau tumbuhan yang telah musnah itu, manusia harus menggunakannya sebagai alat untuk melestarikan hewan dan tumbuhan yang sempat hilang dari permukaan bumi puluhan bahkan ribuan tahun lalu. Dengan demikian manusia menguasai hewan dan tumbuhan, mengusahakan yang terbaik bagi mereka dan memelihara mereka terhindar dari kemusnahan. Itu merupakan salah satu pujian teragung di hadapan TUHAN.

6.        Rangkaian mata rantai kehidupan ini, yang diungkapkan dalam kombinasi penggunaan musik dan suara manusia serta  karya manusia – bila berjalan dengan baik dan sehat – sungguh indah luar biasa, dan inilah pemujian yang paling indah kepada TUHAN. Bila demikian halnya, maka segala yang bernafas dapat ber-halleluya dengan penuh sukacita. Dan manusia dapat mengumandangkannya dalam suara-suara mereka dan dalam karya-karya mereka. Dengan demikian terpaparlah (terlaksanalah)  kebaktian yang paling agung dan mulia serta penuh pujian di bumi (di bawah cakrawala yang kuat)  (di tempat kudus, yang dikuduskan TUHAN) di hadapan TUHAN yang diselenggarakan oleh manusia. Prestasi pemujian seperti itu akan abadi di bumi dan di sorga. Selamat ber-HALLELUYA!

Penulis: Pdt. Langsung Maruli Basa Sitorus (Pdt. LaMBaS).